Kamis, 16 Januari 2014

Profil Wiji Thukul

Widji Widodo atau yang kerap di panggil Widji Thukul lahir di Solo 26 Agustus 1963 .
Pada tanggal 24 Maret 2000 Kontras telah menerima laporan dari keluarga korban Wiji Thukul atau hilangnya aktivis sekaligus penyair Wiji Thukul. Hari-hari sebelum Fitri bulan Februari 1998. informasi terakhir sekitar bulan April-Maret 1998, Wiji Thukul sempat bertemu temannya tetapi sejak saat itu hingga sekarang, Wiji Thukul dinyatakan hilang.
Hilangnya Wiji Thukul pada sekitar Maret 1998 diduga kuat berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Saat itu bertepatan dengan peningkatan operasi represif yang dilakukan ole rezim Orde Baru dalam upaya pembersihan aktivitas politik yang berlawanan dengan Orde Baru.
Operasi pembersihan tersebut hampir merata dilakukan diseluruh wilayah Indonesia. Kontras mencatat dalam berbagai operasi, rezim Orde Baru juga melakukan penculikan terhadap para aktivis (22 orang) yang hingga saat ini 13 orang belum kembali.
Kontras menegaskan bahwa hilangnya Wiji Thukul tidak terlepas dari aktivitas-aktivitas politik yang selama ini di jalaninya. Dengan melihat proses hilangnya Wiji Thukul bersamaan dengan penghilangan secara paksa aktivis-aktivis selama masa menjelang jatuhnya Soeharto.
Bahwa pemerintah adalah pihak yang paling bertanggungjawab untuk mengungkapkan motif hilangnya Wiji Thukul pada khususnya serta mencegah adanya penghilangan secara paksa terhadap warga negara pada umumnya.
PROFIL WIJI THUKUL
Wiji Thukul lahir tanggal 23 Agustus 1963 di Solo. Aktif berkesinambungan mulai sejak SMP ketika bergabung dengan Sanggar Teater Jagat.
Lulus dari SMP, Thukul melanjutkan studi di SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia ) meski hanya sampai kelas II. Disamping aktif berteater, Thukul juga menuli puisi. Puisinya pernah dibacakan di Radio PTPN Solo, dimuat di Muiara, NOVA, Swadesi, Inside Indonesia dan Suara Merdeka.
Pergumulannya dengan kesenian kerakyatan semakin mendalam ketika mulai mengembangkan aktivitas kesenian di kampung bersama teman-temannya yang kebanyakan kaum buruh.
Dia mulai membaca puisi bukan hanya digedung-gedung kesenian atau kampus, namun juga di bis kota , kampung bahkan di aksi-aksi massa .
Kumpulan puisi yang sempat diterbitkan alah “Darman” dan “Mencari Tanah Lapang”. Karya puisinya yang terkenal adalah yang berjudul “Peringatan” yang pada akhir bait puisi berteriaak : ” รข€¦hanya ada satu kata: Lawan!”
Sebagai seniman yang dibesarkan di kampung, Thukul bersama kawan-kawannya membangun kolektif kesenian kampong yang bernama “Sanggar Suka Banjir”.
Kelompok inilah yang mengkspresikan problem-problem rakyat yang teal. Dari sini pula Thukul mulai terlibat dalam aksi-aksi melawan ketidakadilan dan penindasan.
Represi aparat mulai dirasakan ketika Thukul bersama rakyat di kampungnya memprotes pencemaran pabrik tekstil PT. Sari Warna Asli. Dalam aksi ini Thukul sempat ditangkap dan dijemur oleh aparat Polresta Surakarta.
Namun represi ini tak menyurutkan langkahnya. Thukul kemudian bergabung dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) yang aktif dalam aksi-aksi buruh.
Dalam aktivitas inipun Thukul tak luput dari represi aparat. Dalam aksi buruh PT. Sritex bulan Desember 1995, Tukul dianiaya oleh aparat hinga salah satu matanya cidera hampir buta.
KRONOLOGIS HILANGNYA WIJI THUKUL
Desember 1997
Sempat bertemu dengan ketua KTTLV cab. Jakarta yang berkewarganegaraan Belanda.
25-27 Desember 1997
Bertemu dengan Istinya bersama kedua anaknya di Kaliurang, Yogyakarta . Istrinya sempat diantar Thukul ke Stasiun Tugu kembali ke Solo. Saat itu Tukul itu hanya bicara: Wis kono gek bali lan ati-ati karo anakmu (sudah kamu cepat pulang dan hati-hati dengan anakmu)
Februari 1998
Bertemu dengan seorang seniman di kota Magelang.
19 Februari 1998
Berhubungan melalui telepon. Ini adalah komunikasi terakhir dengan Thukul
Sekitar Maret – April 1998
Bertemu dengan Staf Komunitas Utan Kayu di Kantor ISAI Jakarta
Sekitar Maret – April 1998
Sempat makan bakso bersama-sama disekitar by-pass, jalan Pemuda Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar